MUSLIMAH YANG DIRINDUKAN SURGA

  Dirindukan Surga: Seperti Apakah Wanita Yang Dirindukan Surga?

"Dari Imran bin Husain, bahwa Rasulullah pernah menyatakan ‘sesungguhnya penghuni surga yang paling sedikit adalah kaum wantia’. Dalam kisah isra’ mi’rajnya Nabi juga dijelaskan bahwa Nabi banyak melihat kaum wanita di neraka."

 (HR Muslim)

 

Menjadi seorang wanita yang dirindukan surga bukanlah hal yang instan. perlu adanya pengorbanan dan hal yang harus kamu lakukan. Wanita seperti apakah yang dirindukan surga? yang pasti bukan mereka yang sering melalaikan tugas dan kewajibannya sebagi wanita, bukan mereka yang terlena dengan mewahnya kehidupan dunia, dan bukan pula mereka yang membuang-buang waktunya dengan kesia-siaan.

 Kriteria wanita muslimah yang dirindukan surga

Ada beberapa kriteria wanita yang dirindukan surga, diantaranya:  

1.  Menjaga shalat 5 waktu dan shaum Ramadlan, menjaga kehormatan dan taat kepada suami

عَنْ  وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا شِئْتِ.

 Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, "Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan taat kepada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, 'Masuklah ke surga melalui pintu mana pun yang engkau suka'." (HR Ahmad, sahih)

 

 Kriteria wanita muslimah yang dirindukan surga yang pertama ada mereka yang menjaga shalat, puasa, kemaluan dan yang taat kepada suaminya. Banyak di luaran sana wanita yang bahkan menyepelekan kewajibannya sebagai seorang hamba-Nya, lalai akan kewajibannya. Dengan berbagai alasan yang ada padanya mereka menomor duakan kewajibannya itu. Bahkan tidak sedikit wanita di luaran sana yang bangga mempertontonkan auratnya, dengan tanpa merasa bersalah justru mereka mengumbar nafsunya hanya demi meraih popularitas dunia. Bangga dengan dirinya yang suka bergonta-ganti pasangan dengan dalih mencari pasangan yang pas dengan jalan (Pacaran).
Mereka bukan tidak tahu hukumnya tapi mereka hanya mengikuti hawa nafsunya. Menjadi kriteria wanita yang dirindukan surga harus dimulai dari hal terkecil yaitu perbaiki hubunganmu dengan Allah Ta'ala sebagai penciptamu terlebih dahulu.

 

 

2.  Istiqamah dan khusyu’ dalam ketaatan, bersedekah dan banyak menyebut (asma) Allah

 

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِماتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِناتِ وَالْقانِتِينَ وَالْقانِتاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِراتِ وَالْخاشِعِينَ وَالْخاشِعاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِماتِ وَالْحافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحافِظاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِراتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab: 35)

 

 Dalam  firman-Nya Allah Ta'ala jarang sekali menyebutkan laki-laki dan perempuan secara berpasangan. Hal ini  bahwa Maha Adilnya Allah Ta'ala dalam memberikan pahala baik kepada laki-laki dan perempuan. Ketika kita sebagai seorang wanita yang istiqamah dan khusyu dalam beribadah apapun maka balasan Allah tidak akan pernah mengecewakanmu.

 

3.      Taat kepada suami dan tidak nusyuz

الرِّجالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّساءِ بِما فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلى بَعْضٍ وَبِما أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوالِهِمْ فَالصَّالِحاتُ قانِتاتٌ حافِظاتٌ لِلْغَيْبِ بِما حَفِظَ اللَّهُ وَاللاَّتِي تَخافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلِيًّا كَبِيراً.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa: 34)

 

Suami adalah orang pertama yang harus seorang wanita taati setelah Allah di dalam keluarga. Karena suami adalah surga dan neraka bagi seorang wanita yang menjadi seorang istri. Ketika suami tidak meridhai sesuatu perkara yang ada padamu maka dengan ikhlas karena Allah tinggalkanlah perkara itu selama itu baik di mata agama dan Allah Ta'ala. Janganlah menjadi wanita yang nusyuz, wanita yang membangkang, durhaka, dan abai terhadap ridha suami.

 

4.      Izin suami ketika keluar rumah dan tidak tabarruj

 

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 33)

  

5.      Tidak mengolok-olok, mencela, dan memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang buruk

 

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسى أَنْ يَكُونُوا خَيْراً مِنْهُمْ وَلا نِساءٌ مِنْ نِساءٍ عَسى أَنْ يَكُنَّ خَيْراً مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنابَزُوا بِالْأَلْقابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS. Al-Hujurat: 11)

 

6.      Saling menjadi pakaian antara suami dan istri

 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيامِ الرَّفَثُ إِلى نِسائِكُمْ هُنَّ لِباسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِباسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتابَ عَلَيْكُمْ وَعَفا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا ما كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ.

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, (QS. Al-Baqarah: 187)

 

kisah Nabi Ibrahim A.S yang datang ke rumah anaknya Nabi Ismail A.S dan bertemu dengan istrinya. Beliau bertanya bagaimana keadaan rumah tangganya dengan Nabi Ismai, dan istrinya pun menjawab “Rumah tanggaku buruk, aku miskin, susah, suamiku tidak baik!!” Lalu beliau berkata, “Tolong katakan pada Ismail jika ia pulang ‘Ganti pagar pintu rumahnya.” Nabi Ismail pun mengerti bahwa istri seperti itu tidak dapat dipertahankan, maka ia ceraikan. Ketika Nabi Ismail menikah lagi dan Nabi Ibrahim datang ke rumahnya serta bertemu dengan istri Nabi Ismail. Beliau bertanya dengan pertanyaan yang sama. Istri baru Nabi Ismail menjawab, “Alhamdulillah semua baik, alhamdulillah rumah tanggaku baik, rumah tanggaku luar biasa dan diberkahi oleh Allah.” Dan Nabi Ibrahim mengatakan kepada istri baru anaknya untuk mempertahankan pagar pintu rumahnya. “Artinya istri yang seperti ini lah yang harus dipertahankan, karena ia adalah istri yang salehah,”

 

7.      Mendidik anak dengan baik

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan dengan sesuatu, kemudian dia tetap berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut bisa menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

 

8.      Sabar ketika sakit

Ibnu Abbas ra. pernah bercerita kepada ‘Atha bin Abi Rabah, “Ada seorang wanita yang datang ke Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Nabi, aku menderita penyakit sejenis ayan, bila penyakit itu kumat aku tidak sadar sampai membuka auratku, berdoalah kepada Allah agar menyembuhkanku.’ Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam berkata, ‘Bila kamu mau bersabar maka bagimu surga, tetapi bila tidak maka aku bisa mendoakanmu kepada Allah.’ Wanita tadi menjawab . ‘Baiklah aku bersabar, tetapi doakan agar aku tak sampai membuka aurat.’ Maka, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam pun mendo’akannya.”

 

9.       Saling tolong menolong, amar ma’ruf nahyi munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat,  dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya

 

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِناتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 71)

 

10.   Ikhlas terhadap kekurangan suami

 

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّساءَ كَرْهاً وَلا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ ما آتَيْتُمُوهُنَّ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً.

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

 

11.   Selalu berusaha untuk tidak kufur kepada suami

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). 

    Dari ke-sepuluh kriteria wanita muslimah yang dirindukan surga yang saya sebutkan sebelumnya, semoga ada pada diri kita semua sebagai seorang wanita muslimah sejati. Jikapun belum marilah kita terus memperbaiki diri, berikhtiar menggapai kesempurnaan diri dan merai ridha Allah Ta'ala agar kita layak menjadi penghuni surga-Nya dan dirindukan kehadirannya di Surga-Nya kelak. Aamiin

KEHARAMAN TOGEL [TOTO GELAP]

PENGANTAR

JAWA BARAT | portal-indonesia.com – Peredaran judi togel yang kian menjamur di wilayah Jawa Barat dalam beberapa bulan terakhir ini, membuat prihatin sekaligus protes sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Hari ini, Sabtu (24/10/2020), LSM Korek (Komunitas Rakyat Ekonomi Kecil) mengambil sikap dengan memasang spanduk bertuliskan penolakan keras perjudian togel kupon di sejumlah titik.

Spanduk tersebut terlihat di Jl Leuwi Panjang, Jl Sukarno Hatta, dan sejumlah titik di sekitar jalan di Kota Bandung.

Sekjen LSM Korek Toto Suleiman mengatakan pemasangan spanduk bertuliskan penolakan keras perjudian togel di sejumlah titik itu sebagai bentuk protes terhadap maraknya peredaran perjudian togel kupon di wilayah Jawa Barat.

“Kita tahu perjudian seperti itu adalah permainan yang dilarang hukum”, tandas Toto.

Namun menurut Toto, peredaran judi togel yang tampak dilakukan secara terbuka, bebas dan gampang, masih bisa ditemui di sekitaran kota dan kabupaten di Jawa Barat. Seperti di daerah Pasar Caringin Kota Bandung, Jl Bypass Kopo, dan Jl Cijerah Blok 11 Melong Cimahi Selatan.

“Di sejumlah lokasi itu, setiap harinya ramai pembeli togel kupon. Tapi perbuatan yang sudah jelas melanggar hukum itu kenapa seakan ada pembiaran”, tandasnya.

Toto menjelaskan, ada beberapa peraturan yang mengatur mengenai perjudian, seperti yang diatur dalam Pasal 303 Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP) dan untuk perjudian online diatur dalam Pasal 27 ayat (2) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sebagaimana yang telah diubah oleh UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

“Berdasarkan Pasal 303 ayat (1), pelaku perjudian diancam dengan kurungan penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak sepuluh juta rupiah”, terang Toto.

Menurut Toto, perjudian togel dapat merusak ekonomi, pikiran dan akhlak masyarakat.

“Tidak sedikit masyarakat yang sudah kecanduan judi togel, demi memperoleh uang untuk bisa membeli judi kupon togel mereka berani melakukan segala macam cara dan menghalalkan segala perbuatan”, ungkapnya.

“Dan juga banyak rumah tangga yang hancur gara-gara judi. “Sebab uang belanja yang harusnya untuk menghidupi keluarga, dipakai habis buat membeli judi kupon togel”, sambungnya.

Untuk itu, kata Toto, LSM Korek menolak keras perbuatan-perbuatan yang merusak akhlak dan pikiran yang bertentangan dengan asas agama khususnya judi togel yang marak saat ini.

“Kami meminta Kepolisian Daerah Jawa Barat. Polrestabes kota Bandung, Polres Cimahi dan seluruh Polres, Polsek di wilayah hukum Polda Jabar untuk menindak tegas pelaku pelaku perjudian togel kupon di Jawa Barat, agar tercipta masyarakat yang kondusif, agamis, dan berahklak baik”, tutupnya. (Landong G). (https://portal-indonesia.com/2020/10/24/peredaran-judi-togel-marak-lsm-di-jabar-ini-prihatin-dan-protes/, diunduh pada Rabu, 28/10/20 Pukul 9.46 WIB)

 

JUDI DALAM PANGANGAN MUI

MUI berpadandangan bahwa judi adalah sesuatu haram. Sehingga dengan keharaman judi mereka juga beranggapan bahwa segala bentuknya juga diharamkan oleh agama. Dengan demikian MUI juga mengharapkan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB), karena di dalam SDSB tersebut terdapt unsur judi, di antaranya adalah adanya unsur taruhan, unsur harapan/ angan-angan, sehingga berimplikasi untuk kehancuran dan keharmonisan moral dan bukan itu saja, setelah MUI mempelajari SDSB tersebut tidak membawa kepada pembangunan bangsa.

Footnote no. 17: Lihat Fatwa MUI tentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah [SDSB] 1, pada tanggal 23 November 1991. Atau lihat juga fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2013 tentang Jalan Sehat Berhadiah.

Lihat juga hasil fatwa MPU Aceh Nomor 1 Tahun 2016, di mana dalam hasil keputusannya mengatakan bahwa yang Namanya perjudian adalah haram dan begitu juga halnya dengan sarana atau perbuatan sama dengan perbuatan tersebut. Dalil yang mereka gunakan adalah firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 90 … .

Footnote no. 18: Fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (MPUA) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Judi Online.

Kemudian diikuti dengan dasar hukum positif di Indonesia, sehingga dalam hal ini mereka mengharamkan judi online karena judi online adalah permainan yang memasang taruhan uang atau bentuk lain, melalui media internet dan media sosial lainnya. Sehingga dalam hal ini, Fatwa MPU Aceh dengan sendirinya telah mengharamkan segala bentuk taruhan yang berimplikasikan perjudian, jadi mengenai unsur berhadap-hadapan bukanlah sesuatu yang sangat penting dalam pandangan mereka, melainkan unsur taruhanlah yang lebih pokok dan lebih utama. (Dikutip dari Skripsi Azwar Effendi, Mahasiswa Tahun 2018 UIN Ar-Raniry Darussalam - Banda Aceh berjudul Definisi Judi Menurut Fatwa MUI dan Ibrahim Hosen [Analisis Pendekatan Bayani], hlm. 52-53)

 

FATWA DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM TENTANG SDSB

Keputusan Sidang Dewan Hisbah I di Bandung. Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah: Mendengar (1) Prasaran tentang masalah SDSB dalam pandangan hukum Islam dari Al-Ustadz H.A. Syuhada. (2) Pendapat dan masukan argumentasi dari anggota dan peserta sidang Dewan Hisbah. Mengingat: Masalah SDSB sudah lama menjadi kenyataan dan bermasyarakat di Indonesia dengan segala dampaknya baik yang konstruktif terutama yang destruktif, dan mendesak untuk dibahas secara hukumnya menurut Islam. Menimbang: (1) Bahwa status hukum SDSB harus segera ditetapkan menurut hukum Islam. (2) Hasil pembahasan seluruh anggota dan peserta sidang Dewan Hisbah yang menyatakan bahwa SDSB adalah identik dengan maisir yang dilarang dalam Islam. Memutuskan: SDSB adalah Maisir (judi). Demikian keputusan sidang Dewan Hisbah VI tentang SDSB dengan argumentasi-argumentasi terlampir. Bandung, 20 Ramadlan 1410 H/ 15 April 1990 M, Ketua (KH.E. Sar’an, NIAT. 03897), Sekretaris (DRS. Shiddiq Amien, NPA. 06490). (Dewan Hisbah, Kumpulan Keputusan Sidang Dewan Hisbah Persatuan Islam tentang Muamalah, Bandung: 2013. hlm. 183-184)

 

FATWA NAHDLATUL ULAMA TENTANG KEHARAMAN MENGIKUTI DAN MENYELENGGARAKAN KUIS LAYANAN PESAN SINGKAT (SMS) DAN TELFON

Kuis yang sedang marak ini mengandung unsur maisir atau gambling alias taruhan yang dilarang secara tegas dalam kitab suci Al-Qur’an.

Penegasan itu disampaikan dalam Bahtsul Masail Diniyah Waqi’iyyah (pembahasan masalah-masalah aktual keagamaan) di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (15/8/06) lalu. Bahtsul Masail dilakukan oleh para kiai dari jajaran syuriah PBNU, dan utusan dari Lajnah Bahtsul Masail NU (LBM) dari beberapa daerah.

Ditegaskan bahwa hadiah yang diterima oleh satu dari ribuan peserta kuis yang membayar harga pulsa melebihi tarif biasa itu tidak bisa disebut sebagai hadiah dalam pengertian hukum Islam. Hadiah dalam kuis itu lebih tepat disebut sebagai judi yang secara tegas dan jelas haram hukumnya. (din/nam, https://www.nu.or.id/post/read/5231/hati-hati-dengan-perjudian-elektronik, diakses pada Selasa, 27/10/20 Pukul 22.20 WIB)

 

FATWA MAJLIS TARJIH MUHAMMADIYAH TENTANG LOTTO, NALO, DAN SESAMANYA

Mu’tamar Majlis Tarjih Muhammadiyah setelah mempelajari, membahas dan mendalami persoalan Lotto dan Nalo dari segala seginya, mengambil keputusan:

  1. Lotto dan Nalo pada hakekatnya dan sifatnya sama dengan taruhan dan perjudian dengan unsur-unsur:

a.      Pihak yang menerima hadiah sebagai pemenang.

b.      Pihak yang tidak mendapat hadiah sebagai yang kalah.

  1. Oleh karena Lotto dan Nalo adalah salah satu jenis dari taruhan dan perjudian, maka berlaku nash sharih dalam Al-Qur’an surat Baqarah ayat 219-220 dan surat Al-Maidah ayat 90-91.
  2. Mu’tamar mengakui bahwa bagian hasil Lotto dan Nalo yang diambil oleh pihak penyelenggara mengandung manfaat bagi masyarakat sepanjang bagian hasil itu betul-betul dipergunakan bagi pembangunan.
  3. Bahwa madlarat dan akibat jelek yang ditimbulkan oleh tersebar luasnya taruhan dalam perjudian dalam masyarakat, jauh lebih besar daripada manfaat yang diperoleh dari penggunaan hasilnya.

Memutuskan, bahwa Lotto dan Nalo adalah termasuk perjudian. Oleh karena itu hukumnya HARAM.

PENJELASAN DARI MAJLIS TARJIH. Lotto itu singkatan dari Lotere totalizator dan Nalo singkatan dari Nasional Lotre.

Dengan demikian maka lotere biasa termasuk didalamnya walaupun kita ketahui Bersama, bahwa cara dan tekniknya kadang-kadang terdapat perbedaan-perbedaan untuk lebih menarik dan sebagainya.

Dalam putusan Lotto dan Nalo termasuk MAISIR, perjudian karena persamaannya, sama-sama mengandung madlarat dan manfaat, rugi untung, kalah menang. Sebab itu HARAM-lah hukumnya, disebabkan madlarat (jauh) lebih besar dari manfa’atnya, sebagaimana tersebut dalam ayat suci Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 219, dan surat Al-Maidah ayat 90 dan 91.

Oleh karenanya kita wajib menghindarinya dan mengingatkan jangan sampai Lotto dan Nalo diadakan, dijual, dibeli dan sebagainya, malah jika berkuasa: melarang.

Tetapi jika tak/ kurang kemampuan bagi kita untuk membendungnya dan tetap pula Lotto dan Nalo yang haram itu diadakan oleh selain kita, maka tetap pula kita harus menghindarinya dan berikhtiar untuk mengikis/ mengurangi madlaratnya, jangan sampai lebih banyak menimpa kepada khalayak ramai, dengan:

  1. Terus-menerus memperingatkan jangan sampai orang mengadakan, menjual dan membelinya, serta memberitahukannya melalui iklan dan lain-lainnya.
  2. Terus-menerus memperingatkan agar segi manfaatnya yang sedikit itu tidak diselewengkan.
  3. Terus-menerus berikrar terutama kepada yang berwajib supaya mengambil perhatian penuh agar hal tersebut mulai sedikit berkurang/ hilang/ hapus. (www.muhammadiyah.co.id, Keputusan Tarjih Sidoarjo, hlm. 168-170. Diunduh pada Rabu, 28/10/20 Pukul 9.12 WIB)

 

DALIL-DALIL KEHARAMAN JUDI

يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِما إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُما أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِما وَيَسْئَلُونَكَ ما ذا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآياتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ. فِي الدُّنْيا وَالْآخِرَةِ ... .

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, tentang dunia dan akhirat … . (QS. Al-Baqarah [2]: 219-220)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Maidah: 90-91)

إِنَّمَا دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ.

“Hanyalah darah kamu dan harta kamu haram hukumnya … .” (HR. Muslim)

... كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.

“… Setiap muslim atas muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim, pada Bulughul Maram, no. 1524)

قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ: اَلْمَيْسِرُ هُوَ القِمَارُ.

Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas berkata: “Maisir adalah qimar.” (Tafsir Ibnu Katsir, II: 91)

قَالَ السَّاعَتِيْ: اَلمَيْسِرُ يَعْنِيْ القِمَارُ.

As-Sa’ati berkata: “Al-Maisir yakni al-qimar.” (Al-Fath Ar-Rabbani, XVIII: 84)

Ibnu Hajar al-Makki rahimahullah berkata,

الْمَيْسِرُ: الْقِمَارُ بِأَيِّ نَوْعٍ كَانَ.

“Al-Maisir (judi) adalah taruhan (qimar) dengan jenis apa saja.” [Az-Zawâjir ‘an Iqtirâfil Kabâ‘ir, 2/200]

Al-Mahalli rahimahullah berkata:

صُورَةُ الْقِمَارِ الْمُحَرَّمِ التَّرَدُّدُ بَيْنَ أَنْ يَغْنَمَ وَأَنْ يَغْرَمَ.

“Bentuk taruhan yang diharamkan adalah adanya kemungkinan mendapatkan keberuntungan atau kerugian.” [Al-Minhaj bi Hâsyiyah al-Qalyubi, 4/226]

Dosa judi itu tidak hanya di dapatkan oleh orang yang melakukannya, bahkan sekedar ucapan mengajak berjudi sudah terkena dosa dan diperintahkan untuk membayar kaffarah (penebus dosa) dengan bershadaqah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: وَاللَّاتِ وَالعُزَّى، فَلْيَقُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa bersumpah dengan mengatakan ‘Demi Latta dan ‘Uzza, hendaklah dia berkata, ‘Lâ ilâha illa Allâh’. Dan barangsiapa berkata kepada kawannya, ‘Mari aku ajak kamu berjudi’, hendaklah dia bershadaqah!”. [HR. Al-Bukhâri, no. 4860; Muslim, no. 1647]

كُلُّ لِعْبٍ فِيْهِ قِمَارٌ فَهُوَ حَرَامٌ وَالقِمَارُ كُلُّ مَا لَا يَخْلُوْا اللَّاعِبُ فِيْهِ رِبْحٌ وَخَسَارَةٌ وَهُوَ المَيْسِرُ الَّذِيْ قَرَنَهُ القُرْآنُ بِالخَمْرِ وَالأَنْصَابِ وَالأَزْلَامِ.

“Setiap permainan padanya qimar, maka itu haram. Setiap yang permainan yang padanya mengandung keuntungan atau kerugian. Maka illah maisir yang digandengkan oleh Alquran dengan khamr dan mengundi nasib dan anak panah untuk mengundi nasib.” (Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam)

اَلقِمَارُ كُلُّ لِعْبٍ يُشْتَرَطُ فِيْهِ أَنْ يَأْخُذَ الغَالِبُ مِنَ المَغْلُوْبِ شَيْئًا سَوَاءٌ كَانَ بِالوَرَقِ أَوْ غَيْرِهِ.

Qimar adalah setiap permainan yang disyaratkan padanya, pemenang mengambil sesuatu dari yang kalah, sama saja apakah dengan uang atau lainnya.” (Al-Munjid), Wallaahu A'lam, Abu Akyas Hanafi Anshory.

 

Dikutip dari Buletin MUI DESA MARGAMUKTI KECAMATAN PANGALENGAN KAB. BANDUNG edisi ke-1 [NOPEMBER 2020].

HIDUP LEBIH BERKAH DENGAN SHALAT FARDLU BERJAMA’AH

                         Kata barakat adalah bentuk plural (jama’) dari kata barkah (بَرْكَةٌ), dalam bahasa Indonesia, kita sering menyebutnya “berkah”. Dalam Alquran, kata barakat dan yang seakar dengannya terulang sebanyak 32 kali.

            Secara bahasa, kata barkah berarti: (a) tumbuh dan bertambah, (b) tetapnya sesuatu, kemudian ia bercabang, dan satu sama lain saling berdekatan, (c) dada atau punggung unta yang menonjol, hal ini ada kaitannya dengan arti “tumbuh dan bertambah”, sebab salah satu dari anggota tubuh unta itu menonjol dari tubuh lain.

            Secara terminologis kata barkah berarti:

اَلبَرْكَةُ: ثُبُوْتُ الخَيْرِ الإِلهِيِّ فِيْ الشَّيْءِ.

“Kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya.” (Ar-Raghib, Al-Mufradat fi Gharib Alquran, I: 44). Tetapnya kebaikan ini diibaratkan seumpama tetapnya air di dalam telaga. Firman Allah di dalam QS. Al-A’raf [7]: 96.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنا عَلَيْهِمْ بَرَكاتٍ مِنَ السَّماءِ وَالْأَرْضِ وَلكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْناهُمْ بِما كانُوا يَكْسِبُونَ.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Sumber keberkahan hidup diantaranya terdapat pada shalat fardlu berjama’ah. Rasulullah saw. sebagai manusia pilihan Allah Ta’ala telah memberikan teladan dan nasihat hidup berkah melalui shalat fardlu berjama’ah sehingga pada akhirnya akan berbuah kebaikan di dunia dan akhirat, diantaranya sebagai berikut:

Pertama, shalat berjama’ah lebih utama daripada shalat sendiri-sendiri.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra., bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendiri-sendiri.” HR. Muttafaq ‘alaih. Masih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah ra. (dengan lafadz) “… dua puluh lima juz-u.” Adapun riwayat Al-Bukhari melalui sahabat Abu Sa’id, Nabi saw. bersabda, “… derajat.”

            Keterangan A. Hassan: 1) Menurut hadis riwayat Ibnu ‘Umar, bahwa shalat berjama’ah itu lebih tinggi dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendiri. 2) Menurut riwayat Abu Hurairah, dua puluh lima juz-u.3) Menurut riwayat Abu Sa’id, dua puluh lima derajat. 4) Di hadis-hadis itu ada perselisihan tentang 25 dengan 27. Adapun derajat dan juz-u itu, maksudnya sama, yakni shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendiri dua puluh tujuh kali atau dua puluh lima kali.

            Kedua, Rasulullah saw. murka dan mengancam muslim yang malas berjama’ah ke masjid.

            Abu Hurairah ra. berkata, bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabda, “Demi (Tuhan) yang diriku di tangan-Nya, sesungguhnya aku hendak rasanya menyuruh (orang-orang membawa) kayu, lalu terkumpul, kemudian aku perintah supaya (orang-orang) shalat, lalu diadakan adzan buatnya, kemudian aku perintah seorang mengimami orang ramai, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak hadir buat shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka buat kerugian mereka; dan demi (Tuhan); yang diriku di tangan-Nya, sekiranya seorang dari mereka mengetahui bahwasanya ia akan mendapatkan tulang yang berdaging gemuk atau daging dua rusuk yang baik, niscaya ia hadir di shalat isya.” (HR. Muttafaq ‘alaih, tetapi lafadz itu bagi Bukhari).

            Keterangan A. Hassan: “Ada ulama artikan: Aku (Nabi saw.) bakar rumah-rumah mereka sedang mereka ada di dalamnya, atau aku bakar rumah-rumah bersama orang-orangnya.”

            Ketiga, Dua shalat yang bagi orang munafik paling berat.

            Abu Hurairah ra. pula berkata, telah bersabda Rasulullah saw., “Seberat-berat shalat atas munafiqin ialah shalat isya dan shalat fajar (shubuh); dan jika mereka tahu (ganjaran) yang ada pada keduanya, niscaya mereka datang kepada keduanya walaupun dengan merangkak.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

            Menurut hadis riwayat Al-Bukhari, yaitu sabda Nabi saw., “Orang yang paling besar ganjarannya di dalam urusan shalat ialah orang yang paling jauh perjalanannya ke shalat itu, kemudian yang kurang dari itu; dan orang yang menunggu shalat berjama’ah hingga bershalat bersama imam, lebih besar ganjarannya daripada orang yang shalat (sendiri) lalu tidur.” …

            Keempat, Muslim yang buta saja wajib ke masjid, apalagi yang tidak buta.

            Abu Hurairah ra. pula berkata, telah datang kepada Nabi saw., seorang buta, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya tidak mempunyai penuntun yang bisa menuntun saya ke masjid,” maka Nabi saw. beri kelonggaran baginya, tetapi setelah ia berpaling (hendak) pergi, Nabi saw. panggil dia, lalu bertanya, “Adakah engkau dengar adzan untuk shalat?”, ia menjawab, “Ada”. Sabdanya, “Kalau begitu, hendaklah engkau datang!.” (HR. Muslim)

            … sebagian ulama, faham, bahwa tuntunan supaya orang buta itu datang ke masjid Nabi saw. adalah tuntunan sunnah yang keras, buat meramaikan (baca: memakmurkan) masjid, karena jika orang Islam tidak maramaikannya, maka mereka yang belum kuat imannya akan jadi lemah. …

             Kelima, Tidak ada shalat fardlu yang lebih utama daripada sambil berjama’ah.

            Ibnu ‘Abbas ra., menerima dari Nabi saw., ia bersabda, “Barangsiapa mendengar adzan tetapi ia tidak datang, maka tidak ada shalat baginya kecuali lantaran ‘udzur.” (HR. Ibnu Majah, ad-Daruquthni, Ibnu Hibban, dan Hakim yang isnadnya itu menurut syarat Muslim, tetapi sebagian dari ahli hadis rajihkan mauqufnya)

            Keterangan A. Hassan: “Tidak ada shalat baginya, itu berarti: Tidak ada baginya shalat yang lebih afdlal (utama).

            Keenam, Hingga orang yang selesai shalatnya, dianjurkan shalat shadaqah bersama imam yang belum shalat.

            Dari Yazid bin Al-Aswad, bahwasanya ia pernah shalat Shubuh bersama Rasulullah saw. Sesudah Rasulullah saw. shalat, (ketahuan) ada dua orang yang tidak shalat, makai a (suruh) panggil mereka, lalu dibawa mereka dalam keadaan gemetar daging rusuk mereka. Sabdanya kepada mereka, “Apa yang menghalangi kamu berdua turut shalat bersama kami?” jawab mereka, “Kami telah shalat di tempat kami.” Sabdanya, “Jangan kamu berbuat (demikian)!. Apabila kamu telah shalat di tempat kamu, kemudian kamu bertemu imam yang belum shalat, maka hendaklah kamu shalat besertanya, karena yang demikian itu jadi (shalat) sunnat buat kamu.” (HR. Ahmad dan lafadz itu baginya, dan oleh Imam yang tiga [Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai] dan dishahkan hadis ini oleh Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi)

            Ketujuh, Shalat terbaik laki-laki muslim adalah di masjid, bukan di rumah.

            Zaid bin Tsabit berkata, Rasulullah saw. bikin bilik (ruangan) dari tikar, dan ia bershalat (sunnah) padanya. Maka beberapa orang ikuti beliau ke situ, lalu mereka turut dia shalat. Al-Hadits. Dan di (hadis) itu, “Sebaik-baik shalat seseorang ialah di rumahnya, kecuali shalat fardlu.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

            Kedelapan, Walaupun sakit namun masih bisa melangkah, ke masjid-lah, malu-lah kepada Rasulullah saw.!.

            Dari ‘Aisyah ra., tentang kisah Rasulullah saw. shalat dengan orang ramai di dalam keadaan sakit, ia berkata: Lalu Nabi saw. datang hingga duduk di sebelah kiri Abu Bakar ra., yaitu Nabi saw. shalat dengan orang ramai (sebagai imam) di dalam keadaan duduk, sedang Abu Bakar ra. berdiri mengikuti shalat Nabi saw. dan orang ramai mengikuti shalat Abu Bakar ra. (HR. Muttafaq ‘alaih)

            Kesembilan, Shalat berjama’ah itu lebih banyak lebih disukai Allah Ta’ala.

            Ubay bin Ka’ab ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Shalat seorang bersama seorang, lebih baik daripada shalatnya sendirian, dan shalatnya bersama dua orang, lebih baik daripada shalatnya bersama seorang; dan bila ada lebih banyak, maka yang demikian lebih disukai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasai serta dishahkan hadis ini oleh Ibnu Hibban)

            Kesepuluh, Perempuan muslimah lebih utama shalat fardlu di rumah dalam berjama’ah.

            Dari Ummu Waraqah ra., bahwasanya Nabi saw. perintah dia mengimami isi rumahnya. (HR. Abu Dawud dan dishahkan hadis ini oleh Ibnu Khuzaimah)

            Kesebelas, Shalat fardlu awal waktu adalah amalan yang paling utama, apalagi berjama’ah.

            Ibnu Mas’ud ra., ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw., “Seutama-utama ‘amal ialah shalat pada awal waktunya.” (HR. At-Tirmidzi dan Hakim, serta kedua-duanya menge-shah-kan hadis ini, tetapi asalnya hadis ini di dalam Kitab Ash-Shahihain)

            Rafi’ bin Khadij ra., ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda, “Bershubuh-shubuhlah (di awal waktu) dengan (shalat) shubuh, karena yang demikian lebih besar ganjaran buat kamu.” (HR. Imam yang lima [Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah] serta dishahkan hadis ini oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

            Kedua belas, Besar kesempatan dapat berdo’a setelah mendengar adzan.

            Dari Jabir ra., bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabda, “Barangsiapa tatkala mendengar adzan berdo’a:

أَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ, وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ, آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ, وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ.

Alloohumma Robba haadzihid da’watit taammah, wash sholaatil qooimah, aati muhammadan al-washiilata wal fadliilah, wab’atshu maqoomam mahmuudan al-ladzii wa’adtah, ‘Ya Allah bagi seruan yang sempurna ini, dan (Tuhan bagi) shalat yang akan didirikan, berilah kepada Muhammad washilah (derajat yang tinggi) dan fadlilah dan derajat yang terpuji yang Engkau janjikan kepadanya’. Niscaya (yang berdo’a) akan mengenal-dia syafa’at-ku (Nabi saw.) pada hari kiamat.(HR. Imam yang Empat [Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah])

Ketiga belas, Besar kesempatan dapat berdo’a di antara adzan dan iqamat.

            Anas bin Malik ra., ia berkata, Rasulullah saw. telah bersabda, “Tidak ditolak do’a di antara adzan dan iqamat.” (HR. An-Nasa-i dan dishahkan hadis ini oleh Ibnu Khuzaimah)

            Keempat belas, Shalat Jum’at berjama’ah lebih berkah dengan mengikuti anjuran Nabi saw.

            Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa mandi, kemudian ia datang ke Jum’ah, lalu ia shalat (sunat intizhar) seberapa yang ditakdirkan untuknya, kemudian ia diam mendengarkan hingga selesai imam dari khutbahnya, kemudian ia shalat besertanya, niscaya diampunkan baginya (dosa) yang diantaranya dan Jum’ah yang lain dan lebih tiga hari.” (HR. Muslim)

            Keterangan A. Hassan: Pengampunan dosa seperti yang tersebut dan juga bacaan-bacaan yang pembacanya akan terus masuk surga itu, menurut hadis riwayat Muslim disyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya: “Apabila dijauhi dosa-dosa besar, yakni orang yang akan diampunkan begitu mudah dan diberi ganjaran begitu murah, ialah siapa-siapa yang telah jauhkan diri daripada mengerjakan dosa besar. Adapun dosa-dosa besar seperti mencuri, menipu, memfitnah, mengumpat, memakan haram, mabok, zina, judi, dan lain-lainnya, tidak diampunkan melainkan dengan taubat yaitu menyesal atas dosa yang telah dikerjakan dan berjanji kepada diri sendiri tidak akan kembali mengerjakannya”.

            Demikian diantara teladan dan nasihat hidup berkah melalui shalat fardlu berjama’ah. Wallahu A’lam. Abu Akyas Hanafi Anshory.

Rujukan: Diringkas dari Kitab Bulugh al-Maram karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalaniy terjemah A. Hassan “Persatuan Islam” pada Bab Shalat Berjama’ah dan Imamah dan bab-bab lainnya; Bandung: CV. Diponegoro, Cet. Ke-28, 2011.

Dikutip dari Buletin MUI Desa Margamukti Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung Edisi ke-2 [Desember 2020]

Pornografi Perusak Kehidupan

  Pornografi The Drug Of The New Milenium Pornograpi adalah narkoba yang mengubah otak penggunanya secara radikal. ini adalah zat yang sanga...