Meraih Keikhlasan Hati

 



Sebuah Keikhlasan Hati

Meraih sebuah keikhlasan hati yang pada kenyataannya, kehidupan tidak akan selamanya berjalan mulus. Kenyataan yang mesti dihadapi seringkali membuat ketidakseimbangan dalam hati dan pikiran seseorang. Bahkan sering kali dijumpai kebuntuan dalam mencari jalan keluar dari sebuah permasalahan yang sedang dijalani. Keikhlasan hati dalam suasana penuh ketidakpastian akan membuat kita mengeluh dan kurang bersyukur. Kita akan cepat merasa marah dan selalu menyalahkan keadaan maupun lingkungan sekitar. Godaan kehidupan dunia, tak bisa kita hindari. Sebagai manusia, kita juga punya hawa nafsu yang kadang bisa diluar kendali. Karena berbagai masalah dan ujian hidup yang semakin terasa sulit dan melilit. Jika terus dibiarkan amarah ini akan merusak kondisi psikis pada diri seseorang. Untuk itu kita perlu mengendalikan emosi dengan tidak membiarkannya terlalu lama bercokol dalam hati dan juga pikiran.

Dolf Zillmann, ahli psikologi dari University of Alabama seperti yang dikutip dari buku Emotional Intelligence mengungkapkan bahwa pemicu amarah yang universal adalah perasaan terancam bahaya. Ancaman disini bukan saja mengenai ancaman fisik secara langsung saja, tetapi sering juga terjadi oleh ancaman simbolis terhadap harga diri atau martabat; diperlakukan tidak adil atau dikasari, dihujat, dicaci maki atau diremehkan, diftnah, didzalimi merupakan penderitaan bagi yang mengalaminya. Sebagai manusia yang memiliki dorongan syahwat (fujur), adalah wajar memiliki opsi untuk balas dendam.

Dapatkah Meraih Keikhlasan Hati dalam Suasana Hati Penuh Amarah?

 Akankah ketika seseorang melampiaskan amarah dengan membabi-buta, dalam bentuk membalas dendam (mengikuti syahwatnya) kepada mereka yang telah menyakiti hati akan dapat menyembuhkan rasa marah dan rasa kecewanya? Dapatkah Ia meraih keikhlasan hati? Tentu tidak! Justru itu bisa membuat seseorang jauh terlibat masalah baru yang mungkin lebih besar dari masalah sebelumnya dan membuat konektivitas dengan Allah menjadi hancur. Sebab maksiat dan dosa membuat Allah justru memurkainya. Ingat apapun yang terjadi pada diri kita, itu adalah hasil perbuatan tangan kita sendiri.

مَّآ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا
 "Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri." QS. An-Nisa:79.

 Rasa kecewa yang terus menerus diperbesar dengan kemarahan dan ketidakterimaan, akan menghantarkan seseorang pada jalan hidup yang gelap. Marah karena ia merasa menjadi korban atas perilaku-perilaku menyakitkan dari mereka yang telah berbuat buruk pada dirinya. Tetapi sebaliknya ketika kita bisa meredam amarah dan melampiaskan rasa marah yang begitu membuncah dengan hati dan pikiran yang terbuka, maka ketenangan dan kebahagiaanlah yang akan dirasakan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »

Artinya: “Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya” (HR Abu Dawud no. 4777, at-Tirmidzi no. 2021, Ibnu Majah no. 4186 dan Ahmad 3/440).

Ada sebuah kisah dalam Al Quran yang bisa kita ambil pelajarannya, dimana ketika Amarah yang mengendalikan diri dan hati, bukanlah kebaikan serta keikhlasan hati yang terjadi tetapi justru suatu keburukan dan kesulitan yang malah menjadi pada diri.

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan kegelapan berlapis-lapis, "Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang dzalim." Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman." QS. Al-Anbiya:87-88.

Sungguh hanya kemuliaanlah yang akan didapatkan ketika seseorang bisa menahan amarah agar tidak terlampiaskan dengan cara yang salah dan merugikan diri sendiri. begitu banyak manfaat ketika seseorang bisa bersabar dalam menahan amarahnya, padahal ia bisa kapan saja melampiaskan amarahnya seketika itu. Maka, "Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit." Ali bin Abi Thalib.~

Terkadang manusia bingung dan hilang arah dalam melampiaskan amarah karena kekecewaan yang mendalam akan takdir hidup. Terus merasa semakin terpuruk dan merasa paling terkucilkan dalam kehidupan. Merasa diri paling terdzalimi, dengan ujian yang sedang dijalani. Hingga sampai pada kondisi di mana ia memang betul-betul seperti bukan dirinya yang utuh, yang sebenarnya. kondisi dimana ia bersikap di luar kontrol. Adanya dorongan untuk lari dari kenyataan, dorongan untuk menutupi kesalahan diri dengan melakukan kebohongan, atau bahkan adanya dorongan untuk melakukan kamuflase atau kepura-puraan.

Ikhlaskan Hati dengan meredam Amarah

Dalam bukunya Al Farj Ba'da Asy-Syiddah', At-Tanukhi berkata: "Sesungguhnya kesulitan apa saja, betapapun besarnya, dan betapapun lamanya, tidak akan selamanya dialami seseorang dan tidak akan terus-terusan menghimpitnya. Manakala telah begitu kuat menghimpit dan terasa sangat ketat, itu adalah pertanda jalan keluar telah dekat; dan kebaikan justru datang di puncak kesulitan."

Ikhlaskan Hati dengan Menerima Takdir-Nya

Pernahkan kalian berkata seperti ini, "Mengapa harus aku yang mengalami ini Ya Allah?", " Bagaimanakah caraku mengikhlaskan hati menerima semua masalah ini?".  Ketika mengalami sebuah ujian atau musibah, yakinkanlah pada diri bahwa Allah tidak mungkin salah menakdirkan. Engkaulah yang telah Allah pilih untuk merasakan musibah tersebut.

"Tapi kenapa harus aku. Bukankah aku menjalankan ketaatan kepada Allah, aku Shalat, aku menutup aurat, aku juga beribadah terus kepada Allah?"

Jawabannya karena Allah memang memilihmu. Musibah itu sudah diizinkan untuk hinggap mengenai dirimu bukan orang lain. Seperti yang Allah jelaskan dalam sebuah Firman-Nya:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." QS. At-Taghabun:11.

Alih-alih marah dengan dengan takdir-Nya, cobalah untuk kita pahami bahwa ujian itu merupakan isyarat Allah sayang kepadamu. Karena seringkali musibah efektif untuk menyadarkan diri seorang manusia akan hal yang perlu diperbaiki dalam hidupnya. Mungkin ada kedzaliman pada diri terhadap orang lain. Ketika Allah memilih kita untuk menerima ujian atau musibah itu, maka pahami isyarat kasih sayang-Nya. Allah sedang mendidik dirimu. Allah sedang merencanakan hal terbaik untuk hidupmu untuk beberapa waktu mendatang, Dia sedang mempersiapkan dirimu menjadi orang terbaik, menjadi teladan bagi banyak orang. Hanya saja engkau harus bisa menjalani ujian tersebut dengan baik dan hati yang ikhlas.

 

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اَللَّهُ عَنْهُ عَذَابَهُ ) أَخْرَجَهُ اَلطَّبَرَانِيُّ فِي اَلْأَوْسَطِ. وَلَهُ شَاهِدٌ: مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ عِنْدَ اِبْنِ أَبِي اَلدُّنْيَا.

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mampu menahan amarahnya Allah akan menahan dirinya dari adzab-Nya.” Riwayat Thabrani dalam kitab al-Ausath.

Ikhlaskan Hati dengan Memaafkan Oranglain

Di titik episode masalah dengan sesama manusia, kita harus bisa berusaha menggapai ridha dari Allah. Bentuknya adalah dengan memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita, dan menahan amarah saat kita mampu membalaskan segala penderitaan yang disebabkan oleh orang lain. Memaafkan dan mengendalikan amarah ternyata mampu mengubah penderitaan menjadi kesehatan mental untuk diri kita sendiri. Dengan mental yang sehat itulah kita akan mampu melangkah pada jalan yang benar.

……. وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

" …... dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". QS. Ali Imran:134.

 وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ (dan orang-orang yang menahan amarahnya) Yakni yang menyembunyikan kemarahan mereka dan menahannya dalam hati mereka, sehingga tidak berbuat zalim kepada seorangpun sebab kemarahan mereka. Dikatakan (كظم غيظه) apabila ia mendiamkannya dan tidak memperlihatkannya. وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ (dan memaafkan (kesalahan) orang) Yakni tidak membalas kesalahan yang dilakukan orang lain kepada mereka padahal ia berhak untuk mendapat balasan. Dan ini apabila mereka sebenarnya mampu untuk membalas. (lihat Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah).

"kesalahan itu ibarat seseorang meminum air panas dan memaafkan adalah meminum air dingin setelahnya."

~ Hermansyah.S.T.M.M.

(Penulis buku Menjadi bijak melihat dengan hati)

Memang ketika kita memaafkan kesalahan orang lain tidak semudah itu menghilangkan rasa sakit dan luka yang telah mereka berikan untuk kita, namun setidaknya dengan memaafkan kita telah meredakan amarah kita agar tidak terlampiaskan dengan cara yang salah. Karena sesungguhnya penyebab terbesar kesedihan kita adalah pikiran kita untuk membalas dendam dan enggan memberi maaf. Padamkan api kebencian, permusuhan, dan pemutusan silaturahmi dengan memberi maaf dan berlapang dada (Ikhlas). Percayalah, bahwa Allah akan meridhaimu.

Kasihanilah orang yang menyakitimu, terutama orang yang terus-terusan melakukan itu, karena dialah yang patut engkau kasihani. Teruslah berpegang teguh pada kitab Allah yang terus menyeru kita untuk memberi maaf, mengasihi, dan menahan amarah, karena itu termasuk penyebab kebahagiaan. Hasan bin Wahab berkata: "Di antara konsekuensi-konsekuensi cinta ialah memaafkan saudara-saudaramu dan berlapang dada terhadap berbagai kekurangan mereka." Tidak semua orang di sekeliling kita akan bersikap baik dan memiliki sifat yang baik pula. Al Kindi berkata, " Bagaimana mungkin kamu menghendaki dari temanmu atau saudaramu satu perlakuan tertentu, padahal dia mempunyai empat wakat. Cukuplah bagimu, jika kamu memperoleh dari saudaramu sebagian besar dari yang kamu inginkan." Bahkan Abu Darda pun berkata," Mendapatkan cela pada saudaramu adalah lebih baik daripada kehilangan dia sama sekali." Jadi maafkanlah mereka, karena tidak semua orang yang kita kenal memiliki sifat yang sempurna seperti apa yang kita harapkan.

Menurut Zillman, ketika amarah sedang memuncak coba carilah selingan. Selingan disini adalah dengan adanya proses pendinginan, yaitu mencoba meredam amarah dengan sesuatu yang menyenangkan. Karena orang yang sedang marah, sebenarnya dapat mengerem siklus meningkatnya pikiran jahat dengan mencari selingan ini. Dalam temuannya Diane Tice menemukan strategi-strategi yang cukup efektif untuk meredakan amarah, salah satu yang paling efektif adalah pergi menyendiri sembari mendinginkan amarah tersebut. Karena kita adalah seorang muslim, hamba Allah yang begitu sangat disayangi-Nya, kita memiliki Allah yang selalu ada di sisi kita, cobalah untuk mencari selingan dan waktu menyendiri ini dengan cara lebih mendekat kepada-Nya, curahkan dan curhatkan kekesalan, amarah dan kecewa kita pada seseorang hanya kepada Dia Allah yang tidak akan pernah menyakiti dan menghianati kita. Kemudian sadari dan maafkan kesalahan mereka yang telah menorehkan luka yang membuat kita marah, bahkan membuat kita ingin segera membalaskan dendam dan melampiaskan kemarahan itu. Karena sejatinya pelampiasan yang buruk, tak akan pernah mengubah kenyataan jadi membaik. Tetapi pelampiasan yang baik pasti akan mengubah kondisi kenyataan kearah yang lebih baik. Lampiaskan saja segala beban beratmu dengan menangis dan bersujud kepada Rabb semesta alam. Karena kenyataan terbaik, akan segera kita dapati.

Setelah kita berlapang dada memaafkan kesalahan oranglain, langkah selanjutnya cobalah untuk ikhlaskan hati menerima setiap masalah dan ujian dalam hidup sebagai jalan takdir Allah yang harus kita jalani dengan sepenuh hati. Karena bagi mereka yang mampu berpikir tentang kemahabesaran Allah dari setiap ujian yang ia hadapi, Allah akan tunjukan kepadanya berbagai makna tersembunyi dari ujia tersebut. Kita hadapi dan serahkan semua kententuan hidup hanya kepada Allah SWT saja, sejatinya kita hanya bisa menghadapi dan menjalani semua ritme ujian apapun yang terjadi pada kehidupan kita. Tugas kita hanya menjalani semuanya dengan tuntunan Al Quran dan Hadits. Sebab keduanya adalah syarat sahnya titerima sebuah amalan shaleh, setelah ikhlas di dalam hati.

Sebenarnya apa yang membuat kita bisa terus bertahan menjalani apapun? Apakah keluarga; ayah, ibu, anak, saudara, istri, suami? Apakah harta kita? Apakah karena jabatan kita? Apakah karena ilmu dan kekuatan kita? Tentu, bukan itu. Karena jika kita menggantungkannya pada material, pada makhluk, maka kita akan menjadi rapuh. Sebab mereka juga sama, sama lemahnya seperti diri kita. Sejatinya yang membuat kita terus bertahan dan bersabar mengarungi cerita dan derita hidup ini adalah karena harapan kita pada Allah SWT, maka segerahlah serahkan semuanya, pasrahkan segalanya, serta ikhlaskan semua beban amarahmu hanya kepadaNya.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

"Tiada daya (untuk menjauhi maksiat) dan tiada kekuatan (untuk berbuaat taat) kecuali dengan pertolongan Allah."

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali."

Cukuplah Allah sebagai penolongmu dalam meraih keikhlasan hati, tidak ada yang lainnya yang pantas kita jadikan sandaran untuk menyerahkan segala kekesalan dan harapan dalam hidup. Ingat kita adalah hamba-Nya yang sangat beruntung dan bahagia yang hidup dengan mengemban kalimat "Laa ilaaha illalooh, muhamadur Rosulullooh", sesungguhnya Allah telah menggariskan untuk kita cara tertentu untuk hidup dengan bahagia. Serahkan segalanya pada Allah dan raihlah keikhlasan hati dengannya, karena sesungguhnya Allah ta'ala yang paling mengetahui hal-ihwal tentangmu, Maha Tahu akan keluhanmu, dan Maha Mendengar dengan jeritan dan derita hatimu.

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ ...

Artinya: "Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya?..." QS. An-Naml:62.

Meraih keikhlasan hati selalu tenanglah dan jangan berburuk sangka kepada Allah, karena jalan keluar sebenarnya begitu sangat dekat. Raihlah keikhlasan hati dengan menyerahkan segala urusan dalam hidupmu hanya kepada Allah SWT. ~Wallahu a'alam bishawab~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pornografi Perusak Kehidupan

  Pornografi The Drug Of The New Milenium Pornograpi adalah narkoba yang mengubah otak penggunanya secara radikal. ini adalah zat yang sanga...