Cinta Adalah Hakikat Keberadaanmu

 


Cintai Diri:Pahami Hakikat Keberadaan 

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّما خَلَقْناكُمْ عَبَثاً وَ أَنَّكُمْ إِلَيْنا لا تُرْجَعُونَ فَتَعالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَريم

A fa ḥasibtum annamā khalaqnākum 'abaṡaw wa annakum ilainā lā turja'ụn Fata'ālallāhul-malikul-ḥaqq, lā ilāha illā huw, rabbul-'arsyil-karīm,

 

Artinya: "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ´Arsy yang mulia." (QS. Al-Mukminuun (23): 115-116)

 

Memahami hakikat keberadaanmu di dunia ini. Kita menyadari bahwa kehidupan tiada lain hanyalah terdiri dari menit dan detik. Ia tidak lain hanyalah terdiri dari siang dan malam. Tiada lain hanyalah terdiri dari hembusan-hembusan nafas. Memang waktu adalah hidup; waktu lebih terasa berharga daripada emas dan perak; waktu adalah segalanya lebih berharga dari apapun di dunia ini. Akan tetapi, pernahkah kamu pahami apa hakikat keberadaanmu di dunia ini? sebelum kamu memahami yang lainnya, pahami terlebih dahulu apa hakikat keberadaanmu di dunia ini, sebab dengan menyadari hal ini, akan membuat kamu menyadari harus melangkah kearah mana hidupmu. Bahkan dengan menyadari hakikat keberadaanmu di dunia ini, akan membuat diri kamu lebih termotivasi untuk kembali bangkit menatap masa depan.

Mengapa Kamu Hidup?

Kamu boleh saja menganggap hidupmu telah berakhir dan tidak ada gunanya lagi untuk hidup. Tapi, kamu tidak berhak untuk mengakhiri hidup. Sebelum kamu bertekad untuk mengakhiri hidupmu, pernahkah kamu bertanya pada dirimu, "mengapa aku hidup?" ini adalah pertanyaan yang paling mendasar yang pasti setiap orang pernah mempertanyakan pertanyaan ini. Apakah kamu tercipta begitu saja, menjalani kehidupan mengalir dengan sendirinya? Tanpa ada yang menciptakan dan mengendalikan kehidupan? Tentu tidak kan? Ada begitu banyak hakikat keberadaanmu yang mesti kamu sadari.

Allah Tak Pernah Menciptakan Sesuatu dengan Sia-sia 

Saya pernah mengalami hari, di mana keadaan saya ketika itu begitu sangat terpuruk, bersedih dengan kepedihan yang begitu dalam, serasa hidup sudah tidak adil dan tidak ada artinya lagi, bahkan saya pernah kehilangan harapan dan mimpi untuk kembali bangkit. Seolah orang-orang di sekeliling saya begitu kejam. Mereka tidak mengerti perasaan, keinginan dan mimpi saya. Sampai-sampai merasa, mereka semua telah merenggut kebahagiaan saya. Akan tetapi, di satu malam saya menyadari sesuatu. Ketika itu tepat pada malam pergantian tahun baru masehi, tepat pukul 00.10 WIB saya melaksanakan shalat tahajud, berusaha mencari ketenangan hati. Saya tersadar ketika itu, bahwa waktu terus berjalan meski bagaimanapun saya terluka dan kecewa, waktu akan terus belalu tanpa menghiraukan. Saya termenung memikirkan sesuatu kala itu. Sebenarnya apa tujuan Allah memberikan hidup bagi saya, untuk apa? Jika Allah memberikan saya hidup lalu kenapa Allah membiarkan saya terluka seperti ini? Itulah beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya ketika itu. 

 

Tepat ketika kembang api di luar meledak-ledak dengan meriahnya, saya tersadar bahwa Allah berikan saya hidup bukan untuk main-main, saya adalah makhluk-Nya yang diciptakannya dengan sempurna, tugas saya sebagai manusia adalah untuk beribadah, menjadi kepanjangan tangan-Nya sebagai khalifah di muka bumi ini. Saya boleh saja merasa kecewa dengan sikap orang tua ketika itu, yang memutuskan sesuatu dengan sepihak hingga mengecewakan saya. Mereka adalah jalan yang dipilih Allah untuk melahirkan saya kedunia ini, tapi tetap hakikat kehidupan saya adalah karena kuasa-Nya.

 

"Allah tidak pernah menciptamu dengan kesia-siaan, pasti ada rencananya yang begitu besar yang belum kamu sadari sepenuhnya." Ya, itulah kata-kata yang terucap ketika saya mencoba menguatkan hati dan meluruskan pikiran. Hakikat keberadaan saya bukanlah sebuah kesia-siaan, saya hanya perlu membuka mata hati dan pikiran. Bahwa tugas utama saya di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepada Allah bukan sebaliknya; terus terpuruk dalam kesedihan, membiarkan setan tertawa mentertawakan kepedihan hati saya, kehilangan harapan untuk melanjutkan mimpi dan hidup. Terlalu tidak berfaedah jika hal itu terus saya lakukan.

Cintai Dirimu Karena Kamu Istimewa 

Kiat-kiat yang bisa kamu lakukan agar selalu ingat dengan apa sebenarnya hakikat keberadaan kita di dunia ini adalah dengan mencintai dirimu dan keadaan yang terjadi dalam hidupmu. Selalu melihat dan merenungkan setiap kejadian yang terjadi di dalam kehidupan, belajar dan terus membuka mata hati dan diri untuk melihat begitu besarnya karunia Allah Ta'ala untuk kita, dia tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Bahkan nyamuk yang kita anggap merugikan Allah pasti letakkan kebaikan di dalamnya.

Allah berikan rasa sakit agar kita belajar bagaimana caranya untuk

bangkit. (@yani_dayanti)


Meraih Keikhlasan Hati

 



Sebuah Keikhlasan Hati

Meraih sebuah keikhlasan hati yang pada kenyataannya, kehidupan tidak akan selamanya berjalan mulus. Kenyataan yang mesti dihadapi seringkali membuat ketidakseimbangan dalam hati dan pikiran seseorang. Bahkan sering kali dijumpai kebuntuan dalam mencari jalan keluar dari sebuah permasalahan yang sedang dijalani. Keikhlasan hati dalam suasana penuh ketidakpastian akan membuat kita mengeluh dan kurang bersyukur. Kita akan cepat merasa marah dan selalu menyalahkan keadaan maupun lingkungan sekitar. Godaan kehidupan dunia, tak bisa kita hindari. Sebagai manusia, kita juga punya hawa nafsu yang kadang bisa diluar kendali. Karena berbagai masalah dan ujian hidup yang semakin terasa sulit dan melilit. Jika terus dibiarkan amarah ini akan merusak kondisi psikis pada diri seseorang. Untuk itu kita perlu mengendalikan emosi dengan tidak membiarkannya terlalu lama bercokol dalam hati dan juga pikiran.

Dolf Zillmann, ahli psikologi dari University of Alabama seperti yang dikutip dari buku Emotional Intelligence mengungkapkan bahwa pemicu amarah yang universal adalah perasaan terancam bahaya. Ancaman disini bukan saja mengenai ancaman fisik secara langsung saja, tetapi sering juga terjadi oleh ancaman simbolis terhadap harga diri atau martabat; diperlakukan tidak adil atau dikasari, dihujat, dicaci maki atau diremehkan, diftnah, didzalimi merupakan penderitaan bagi yang mengalaminya. Sebagai manusia yang memiliki dorongan syahwat (fujur), adalah wajar memiliki opsi untuk balas dendam.

Dapatkah Meraih Keikhlasan Hati dalam Suasana Hati Penuh Amarah?

 Akankah ketika seseorang melampiaskan amarah dengan membabi-buta, dalam bentuk membalas dendam (mengikuti syahwatnya) kepada mereka yang telah menyakiti hati akan dapat menyembuhkan rasa marah dan rasa kecewanya? Dapatkah Ia meraih keikhlasan hati? Tentu tidak! Justru itu bisa membuat seseorang jauh terlibat masalah baru yang mungkin lebih besar dari masalah sebelumnya dan membuat konektivitas dengan Allah menjadi hancur. Sebab maksiat dan dosa membuat Allah justru memurkainya. Ingat apapun yang terjadi pada diri kita, itu adalah hasil perbuatan tangan kita sendiri.

مَّآ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا
 "Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri." QS. An-Nisa:79.

 Rasa kecewa yang terus menerus diperbesar dengan kemarahan dan ketidakterimaan, akan menghantarkan seseorang pada jalan hidup yang gelap. Marah karena ia merasa menjadi korban atas perilaku-perilaku menyakitkan dari mereka yang telah berbuat buruk pada dirinya. Tetapi sebaliknya ketika kita bisa meredam amarah dan melampiaskan rasa marah yang begitu membuncah dengan hati dan pikiran yang terbuka, maka ketenangan dan kebahagiaanlah yang akan dirasakan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »

Artinya: “Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya” (HR Abu Dawud no. 4777, at-Tirmidzi no. 2021, Ibnu Majah no. 4186 dan Ahmad 3/440).

Ada sebuah kisah dalam Al Quran yang bisa kita ambil pelajarannya, dimana ketika Amarah yang mengendalikan diri dan hati, bukanlah kebaikan serta keikhlasan hati yang terjadi tetapi justru suatu keburukan dan kesulitan yang malah menjadi pada diri.

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan kegelapan berlapis-lapis, "Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang dzalim." Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman." QS. Al-Anbiya:87-88.

Sungguh hanya kemuliaanlah yang akan didapatkan ketika seseorang bisa menahan amarah agar tidak terlampiaskan dengan cara yang salah dan merugikan diri sendiri. begitu banyak manfaat ketika seseorang bisa bersabar dalam menahan amarahnya, padahal ia bisa kapan saja melampiaskan amarahnya seketika itu. Maka, "Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit." Ali bin Abi Thalib.~

Terkadang manusia bingung dan hilang arah dalam melampiaskan amarah karena kekecewaan yang mendalam akan takdir hidup. Terus merasa semakin terpuruk dan merasa paling terkucilkan dalam kehidupan. Merasa diri paling terdzalimi, dengan ujian yang sedang dijalani. Hingga sampai pada kondisi di mana ia memang betul-betul seperti bukan dirinya yang utuh, yang sebenarnya. kondisi dimana ia bersikap di luar kontrol. Adanya dorongan untuk lari dari kenyataan, dorongan untuk menutupi kesalahan diri dengan melakukan kebohongan, atau bahkan adanya dorongan untuk melakukan kamuflase atau kepura-puraan.

Ikhlaskan Hati dengan meredam Amarah

Dalam bukunya Al Farj Ba'da Asy-Syiddah', At-Tanukhi berkata: "Sesungguhnya kesulitan apa saja, betapapun besarnya, dan betapapun lamanya, tidak akan selamanya dialami seseorang dan tidak akan terus-terusan menghimpitnya. Manakala telah begitu kuat menghimpit dan terasa sangat ketat, itu adalah pertanda jalan keluar telah dekat; dan kebaikan justru datang di puncak kesulitan."

Ikhlaskan Hati dengan Menerima Takdir-Nya

Pernahkan kalian berkata seperti ini, "Mengapa harus aku yang mengalami ini Ya Allah?", " Bagaimanakah caraku mengikhlaskan hati menerima semua masalah ini?".  Ketika mengalami sebuah ujian atau musibah, yakinkanlah pada diri bahwa Allah tidak mungkin salah menakdirkan. Engkaulah yang telah Allah pilih untuk merasakan musibah tersebut.

"Tapi kenapa harus aku. Bukankah aku menjalankan ketaatan kepada Allah, aku Shalat, aku menutup aurat, aku juga beribadah terus kepada Allah?"

Jawabannya karena Allah memang memilihmu. Musibah itu sudah diizinkan untuk hinggap mengenai dirimu bukan orang lain. Seperti yang Allah jelaskan dalam sebuah Firman-Nya:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." QS. At-Taghabun:11.

Alih-alih marah dengan dengan takdir-Nya, cobalah untuk kita pahami bahwa ujian itu merupakan isyarat Allah sayang kepadamu. Karena seringkali musibah efektif untuk menyadarkan diri seorang manusia akan hal yang perlu diperbaiki dalam hidupnya. Mungkin ada kedzaliman pada diri terhadap orang lain. Ketika Allah memilih kita untuk menerima ujian atau musibah itu, maka pahami isyarat kasih sayang-Nya. Allah sedang mendidik dirimu. Allah sedang merencanakan hal terbaik untuk hidupmu untuk beberapa waktu mendatang, Dia sedang mempersiapkan dirimu menjadi orang terbaik, menjadi teladan bagi banyak orang. Hanya saja engkau harus bisa menjalani ujian tersebut dengan baik dan hati yang ikhlas.

 

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اَللَّهُ عَنْهُ عَذَابَهُ ) أَخْرَجَهُ اَلطَّبَرَانِيُّ فِي اَلْأَوْسَطِ. وَلَهُ شَاهِدٌ: مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ عِنْدَ اِبْنِ أَبِي اَلدُّنْيَا.

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mampu menahan amarahnya Allah akan menahan dirinya dari adzab-Nya.” Riwayat Thabrani dalam kitab al-Ausath.

Ikhlaskan Hati dengan Memaafkan Oranglain

Di titik episode masalah dengan sesama manusia, kita harus bisa berusaha menggapai ridha dari Allah. Bentuknya adalah dengan memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita, dan menahan amarah saat kita mampu membalaskan segala penderitaan yang disebabkan oleh orang lain. Memaafkan dan mengendalikan amarah ternyata mampu mengubah penderitaan menjadi kesehatan mental untuk diri kita sendiri. Dengan mental yang sehat itulah kita akan mampu melangkah pada jalan yang benar.

……. وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

" …... dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". QS. Ali Imran:134.

 وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ (dan orang-orang yang menahan amarahnya) Yakni yang menyembunyikan kemarahan mereka dan menahannya dalam hati mereka, sehingga tidak berbuat zalim kepada seorangpun sebab kemarahan mereka. Dikatakan (كظم غيظه) apabila ia mendiamkannya dan tidak memperlihatkannya. وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ (dan memaafkan (kesalahan) orang) Yakni tidak membalas kesalahan yang dilakukan orang lain kepada mereka padahal ia berhak untuk mendapat balasan. Dan ini apabila mereka sebenarnya mampu untuk membalas. (lihat Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah).

"kesalahan itu ibarat seseorang meminum air panas dan memaafkan adalah meminum air dingin setelahnya."

~ Hermansyah.S.T.M.M.

(Penulis buku Menjadi bijak melihat dengan hati)

Memang ketika kita memaafkan kesalahan orang lain tidak semudah itu menghilangkan rasa sakit dan luka yang telah mereka berikan untuk kita, namun setidaknya dengan memaafkan kita telah meredakan amarah kita agar tidak terlampiaskan dengan cara yang salah. Karena sesungguhnya penyebab terbesar kesedihan kita adalah pikiran kita untuk membalas dendam dan enggan memberi maaf. Padamkan api kebencian, permusuhan, dan pemutusan silaturahmi dengan memberi maaf dan berlapang dada (Ikhlas). Percayalah, bahwa Allah akan meridhaimu.

Kasihanilah orang yang menyakitimu, terutama orang yang terus-terusan melakukan itu, karena dialah yang patut engkau kasihani. Teruslah berpegang teguh pada kitab Allah yang terus menyeru kita untuk memberi maaf, mengasihi, dan menahan amarah, karena itu termasuk penyebab kebahagiaan. Hasan bin Wahab berkata: "Di antara konsekuensi-konsekuensi cinta ialah memaafkan saudara-saudaramu dan berlapang dada terhadap berbagai kekurangan mereka." Tidak semua orang di sekeliling kita akan bersikap baik dan memiliki sifat yang baik pula. Al Kindi berkata, " Bagaimana mungkin kamu menghendaki dari temanmu atau saudaramu satu perlakuan tertentu, padahal dia mempunyai empat wakat. Cukuplah bagimu, jika kamu memperoleh dari saudaramu sebagian besar dari yang kamu inginkan." Bahkan Abu Darda pun berkata," Mendapatkan cela pada saudaramu adalah lebih baik daripada kehilangan dia sama sekali." Jadi maafkanlah mereka, karena tidak semua orang yang kita kenal memiliki sifat yang sempurna seperti apa yang kita harapkan.

Menurut Zillman, ketika amarah sedang memuncak coba carilah selingan. Selingan disini adalah dengan adanya proses pendinginan, yaitu mencoba meredam amarah dengan sesuatu yang menyenangkan. Karena orang yang sedang marah, sebenarnya dapat mengerem siklus meningkatnya pikiran jahat dengan mencari selingan ini. Dalam temuannya Diane Tice menemukan strategi-strategi yang cukup efektif untuk meredakan amarah, salah satu yang paling efektif adalah pergi menyendiri sembari mendinginkan amarah tersebut. Karena kita adalah seorang muslim, hamba Allah yang begitu sangat disayangi-Nya, kita memiliki Allah yang selalu ada di sisi kita, cobalah untuk mencari selingan dan waktu menyendiri ini dengan cara lebih mendekat kepada-Nya, curahkan dan curhatkan kekesalan, amarah dan kecewa kita pada seseorang hanya kepada Dia Allah yang tidak akan pernah menyakiti dan menghianati kita. Kemudian sadari dan maafkan kesalahan mereka yang telah menorehkan luka yang membuat kita marah, bahkan membuat kita ingin segera membalaskan dendam dan melampiaskan kemarahan itu. Karena sejatinya pelampiasan yang buruk, tak akan pernah mengubah kenyataan jadi membaik. Tetapi pelampiasan yang baik pasti akan mengubah kondisi kenyataan kearah yang lebih baik. Lampiaskan saja segala beban beratmu dengan menangis dan bersujud kepada Rabb semesta alam. Karena kenyataan terbaik, akan segera kita dapati.

Setelah kita berlapang dada memaafkan kesalahan oranglain, langkah selanjutnya cobalah untuk ikhlaskan hati menerima setiap masalah dan ujian dalam hidup sebagai jalan takdir Allah yang harus kita jalani dengan sepenuh hati. Karena bagi mereka yang mampu berpikir tentang kemahabesaran Allah dari setiap ujian yang ia hadapi, Allah akan tunjukan kepadanya berbagai makna tersembunyi dari ujia tersebut. Kita hadapi dan serahkan semua kententuan hidup hanya kepada Allah SWT saja, sejatinya kita hanya bisa menghadapi dan menjalani semua ritme ujian apapun yang terjadi pada kehidupan kita. Tugas kita hanya menjalani semuanya dengan tuntunan Al Quran dan Hadits. Sebab keduanya adalah syarat sahnya titerima sebuah amalan shaleh, setelah ikhlas di dalam hati.

Sebenarnya apa yang membuat kita bisa terus bertahan menjalani apapun? Apakah keluarga; ayah, ibu, anak, saudara, istri, suami? Apakah harta kita? Apakah karena jabatan kita? Apakah karena ilmu dan kekuatan kita? Tentu, bukan itu. Karena jika kita menggantungkannya pada material, pada makhluk, maka kita akan menjadi rapuh. Sebab mereka juga sama, sama lemahnya seperti diri kita. Sejatinya yang membuat kita terus bertahan dan bersabar mengarungi cerita dan derita hidup ini adalah karena harapan kita pada Allah SWT, maka segerahlah serahkan semuanya, pasrahkan segalanya, serta ikhlaskan semua beban amarahmu hanya kepadaNya.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

"Tiada daya (untuk menjauhi maksiat) dan tiada kekuatan (untuk berbuaat taat) kecuali dengan pertolongan Allah."

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali."

Cukuplah Allah sebagai penolongmu dalam meraih keikhlasan hati, tidak ada yang lainnya yang pantas kita jadikan sandaran untuk menyerahkan segala kekesalan dan harapan dalam hidup. Ingat kita adalah hamba-Nya yang sangat beruntung dan bahagia yang hidup dengan mengemban kalimat "Laa ilaaha illalooh, muhamadur Rosulullooh", sesungguhnya Allah telah menggariskan untuk kita cara tertentu untuk hidup dengan bahagia. Serahkan segalanya pada Allah dan raihlah keikhlasan hati dengannya, karena sesungguhnya Allah ta'ala yang paling mengetahui hal-ihwal tentangmu, Maha Tahu akan keluhanmu, dan Maha Mendengar dengan jeritan dan derita hatimu.

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ ...

Artinya: "Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya?..." QS. An-Naml:62.

Meraih keikhlasan hati selalu tenanglah dan jangan berburuk sangka kepada Allah, karena jalan keluar sebenarnya begitu sangat dekat. Raihlah keikhlasan hati dengan menyerahkan segala urusan dalam hidupmu hanya kepada Allah SWT. ~Wallahu a'alam bishawab~

MUSLIMAH YANG DIRINDUKAN SURGA

  Dirindukan Surga: Seperti Apakah Wanita Yang Dirindukan Surga?

"Dari Imran bin Husain, bahwa Rasulullah pernah menyatakan ‘sesungguhnya penghuni surga yang paling sedikit adalah kaum wantia’. Dalam kisah isra’ mi’rajnya Nabi juga dijelaskan bahwa Nabi banyak melihat kaum wanita di neraka."

 (HR Muslim)

 

Menjadi seorang wanita yang dirindukan surga bukanlah hal yang instan. perlu adanya pengorbanan dan hal yang harus kamu lakukan. Wanita seperti apakah yang dirindukan surga? yang pasti bukan mereka yang sering melalaikan tugas dan kewajibannya sebagi wanita, bukan mereka yang terlena dengan mewahnya kehidupan dunia, dan bukan pula mereka yang membuang-buang waktunya dengan kesia-siaan.

 Kriteria wanita muslimah yang dirindukan surga

Ada beberapa kriteria wanita yang dirindukan surga, diantaranya:  

1.  Menjaga shalat 5 waktu dan shaum Ramadlan, menjaga kehormatan dan taat kepada suami

عَنْ  وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا شِئْتِ.

 Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, "Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan taat kepada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, 'Masuklah ke surga melalui pintu mana pun yang engkau suka'." (HR Ahmad, sahih)

 

 Kriteria wanita muslimah yang dirindukan surga yang pertama ada mereka yang menjaga shalat, puasa, kemaluan dan yang taat kepada suaminya. Banyak di luaran sana wanita yang bahkan menyepelekan kewajibannya sebagai seorang hamba-Nya, lalai akan kewajibannya. Dengan berbagai alasan yang ada padanya mereka menomor duakan kewajibannya itu. Bahkan tidak sedikit wanita di luaran sana yang bangga mempertontonkan auratnya, dengan tanpa merasa bersalah justru mereka mengumbar nafsunya hanya demi meraih popularitas dunia. Bangga dengan dirinya yang suka bergonta-ganti pasangan dengan dalih mencari pasangan yang pas dengan jalan (Pacaran).
Mereka bukan tidak tahu hukumnya tapi mereka hanya mengikuti hawa nafsunya. Menjadi kriteria wanita yang dirindukan surga harus dimulai dari hal terkecil yaitu perbaiki hubunganmu dengan Allah Ta'ala sebagai penciptamu terlebih dahulu.

 

 

2.  Istiqamah dan khusyu’ dalam ketaatan, bersedekah dan banyak menyebut (asma) Allah

 

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِماتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِناتِ وَالْقانِتِينَ وَالْقانِتاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِراتِ وَالْخاشِعِينَ وَالْخاشِعاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِماتِ وَالْحافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحافِظاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِراتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab: 35)

 

 Dalam  firman-Nya Allah Ta'ala jarang sekali menyebutkan laki-laki dan perempuan secara berpasangan. Hal ini  bahwa Maha Adilnya Allah Ta'ala dalam memberikan pahala baik kepada laki-laki dan perempuan. Ketika kita sebagai seorang wanita yang istiqamah dan khusyu dalam beribadah apapun maka balasan Allah tidak akan pernah mengecewakanmu.

 

3.      Taat kepada suami dan tidak nusyuz

الرِّجالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّساءِ بِما فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلى بَعْضٍ وَبِما أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوالِهِمْ فَالصَّالِحاتُ قانِتاتٌ حافِظاتٌ لِلْغَيْبِ بِما حَفِظَ اللَّهُ وَاللاَّتِي تَخافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلِيًّا كَبِيراً.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa: 34)

 

Suami adalah orang pertama yang harus seorang wanita taati setelah Allah di dalam keluarga. Karena suami adalah surga dan neraka bagi seorang wanita yang menjadi seorang istri. Ketika suami tidak meridhai sesuatu perkara yang ada padamu maka dengan ikhlas karena Allah tinggalkanlah perkara itu selama itu baik di mata agama dan Allah Ta'ala. Janganlah menjadi wanita yang nusyuz, wanita yang membangkang, durhaka, dan abai terhadap ridha suami.

 

4.      Izin suami ketika keluar rumah dan tidak tabarruj

 

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 33)

  

5.      Tidak mengolok-olok, mencela, dan memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang buruk

 

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسى أَنْ يَكُونُوا خَيْراً مِنْهُمْ وَلا نِساءٌ مِنْ نِساءٍ عَسى أَنْ يَكُنَّ خَيْراً مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنابَزُوا بِالْأَلْقابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS. Al-Hujurat: 11)

 

6.      Saling menjadi pakaian antara suami dan istri

 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيامِ الرَّفَثُ إِلى نِسائِكُمْ هُنَّ لِباسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِباسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتابَ عَلَيْكُمْ وَعَفا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا ما كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ.

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, (QS. Al-Baqarah: 187)

 

kisah Nabi Ibrahim A.S yang datang ke rumah anaknya Nabi Ismail A.S dan bertemu dengan istrinya. Beliau bertanya bagaimana keadaan rumah tangganya dengan Nabi Ismai, dan istrinya pun menjawab “Rumah tanggaku buruk, aku miskin, susah, suamiku tidak baik!!” Lalu beliau berkata, “Tolong katakan pada Ismail jika ia pulang ‘Ganti pagar pintu rumahnya.” Nabi Ismail pun mengerti bahwa istri seperti itu tidak dapat dipertahankan, maka ia ceraikan. Ketika Nabi Ismail menikah lagi dan Nabi Ibrahim datang ke rumahnya serta bertemu dengan istri Nabi Ismail. Beliau bertanya dengan pertanyaan yang sama. Istri baru Nabi Ismail menjawab, “Alhamdulillah semua baik, alhamdulillah rumah tanggaku baik, rumah tanggaku luar biasa dan diberkahi oleh Allah.” Dan Nabi Ibrahim mengatakan kepada istri baru anaknya untuk mempertahankan pagar pintu rumahnya. “Artinya istri yang seperti ini lah yang harus dipertahankan, karena ia adalah istri yang salehah,”

 

7.      Mendidik anak dengan baik

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan dengan sesuatu, kemudian dia tetap berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut bisa menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

 

8.      Sabar ketika sakit

Ibnu Abbas ra. pernah bercerita kepada ‘Atha bin Abi Rabah, “Ada seorang wanita yang datang ke Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Nabi, aku menderita penyakit sejenis ayan, bila penyakit itu kumat aku tidak sadar sampai membuka auratku, berdoalah kepada Allah agar menyembuhkanku.’ Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam berkata, ‘Bila kamu mau bersabar maka bagimu surga, tetapi bila tidak maka aku bisa mendoakanmu kepada Allah.’ Wanita tadi menjawab . ‘Baiklah aku bersabar, tetapi doakan agar aku tak sampai membuka aurat.’ Maka, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam pun mendo’akannya.”

 

9.       Saling tolong menolong, amar ma’ruf nahyi munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat,  dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya

 

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِناتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 71)

 

10.   Ikhlas terhadap kekurangan suami

 

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّساءَ كَرْهاً وَلا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ ما آتَيْتُمُوهُنَّ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً.

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

 

11.   Selalu berusaha untuk tidak kufur kepada suami

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). 

    Dari ke-sepuluh kriteria wanita muslimah yang dirindukan surga yang saya sebutkan sebelumnya, semoga ada pada diri kita semua sebagai seorang wanita muslimah sejati. Jikapun belum marilah kita terus memperbaiki diri, berikhtiar menggapai kesempurnaan diri dan merai ridha Allah Ta'ala agar kita layak menjadi penghuni surga-Nya dan dirindukan kehadirannya di Surga-Nya kelak. Aamiin

KEHARAMAN TOGEL [TOTO GELAP]

PENGANTAR

JAWA BARAT | portal-indonesia.com – Peredaran judi togel yang kian menjamur di wilayah Jawa Barat dalam beberapa bulan terakhir ini, membuat prihatin sekaligus protes sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Hari ini, Sabtu (24/10/2020), LSM Korek (Komunitas Rakyat Ekonomi Kecil) mengambil sikap dengan memasang spanduk bertuliskan penolakan keras perjudian togel kupon di sejumlah titik.

Spanduk tersebut terlihat di Jl Leuwi Panjang, Jl Sukarno Hatta, dan sejumlah titik di sekitar jalan di Kota Bandung.

Sekjen LSM Korek Toto Suleiman mengatakan pemasangan spanduk bertuliskan penolakan keras perjudian togel di sejumlah titik itu sebagai bentuk protes terhadap maraknya peredaran perjudian togel kupon di wilayah Jawa Barat.

“Kita tahu perjudian seperti itu adalah permainan yang dilarang hukum”, tandas Toto.

Namun menurut Toto, peredaran judi togel yang tampak dilakukan secara terbuka, bebas dan gampang, masih bisa ditemui di sekitaran kota dan kabupaten di Jawa Barat. Seperti di daerah Pasar Caringin Kota Bandung, Jl Bypass Kopo, dan Jl Cijerah Blok 11 Melong Cimahi Selatan.

“Di sejumlah lokasi itu, setiap harinya ramai pembeli togel kupon. Tapi perbuatan yang sudah jelas melanggar hukum itu kenapa seakan ada pembiaran”, tandasnya.

Toto menjelaskan, ada beberapa peraturan yang mengatur mengenai perjudian, seperti yang diatur dalam Pasal 303 Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP) dan untuk perjudian online diatur dalam Pasal 27 ayat (2) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sebagaimana yang telah diubah oleh UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

“Berdasarkan Pasal 303 ayat (1), pelaku perjudian diancam dengan kurungan penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak sepuluh juta rupiah”, terang Toto.

Menurut Toto, perjudian togel dapat merusak ekonomi, pikiran dan akhlak masyarakat.

“Tidak sedikit masyarakat yang sudah kecanduan judi togel, demi memperoleh uang untuk bisa membeli judi kupon togel mereka berani melakukan segala macam cara dan menghalalkan segala perbuatan”, ungkapnya.

“Dan juga banyak rumah tangga yang hancur gara-gara judi. “Sebab uang belanja yang harusnya untuk menghidupi keluarga, dipakai habis buat membeli judi kupon togel”, sambungnya.

Untuk itu, kata Toto, LSM Korek menolak keras perbuatan-perbuatan yang merusak akhlak dan pikiran yang bertentangan dengan asas agama khususnya judi togel yang marak saat ini.

“Kami meminta Kepolisian Daerah Jawa Barat. Polrestabes kota Bandung, Polres Cimahi dan seluruh Polres, Polsek di wilayah hukum Polda Jabar untuk menindak tegas pelaku pelaku perjudian togel kupon di Jawa Barat, agar tercipta masyarakat yang kondusif, agamis, dan berahklak baik”, tutupnya. (Landong G). (https://portal-indonesia.com/2020/10/24/peredaran-judi-togel-marak-lsm-di-jabar-ini-prihatin-dan-protes/, diunduh pada Rabu, 28/10/20 Pukul 9.46 WIB)

 

JUDI DALAM PANGANGAN MUI

MUI berpadandangan bahwa judi adalah sesuatu haram. Sehingga dengan keharaman judi mereka juga beranggapan bahwa segala bentuknya juga diharamkan oleh agama. Dengan demikian MUI juga mengharapkan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB), karena di dalam SDSB tersebut terdapt unsur judi, di antaranya adalah adanya unsur taruhan, unsur harapan/ angan-angan, sehingga berimplikasi untuk kehancuran dan keharmonisan moral dan bukan itu saja, setelah MUI mempelajari SDSB tersebut tidak membawa kepada pembangunan bangsa.

Footnote no. 17: Lihat Fatwa MUI tentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah [SDSB] 1, pada tanggal 23 November 1991. Atau lihat juga fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2013 tentang Jalan Sehat Berhadiah.

Lihat juga hasil fatwa MPU Aceh Nomor 1 Tahun 2016, di mana dalam hasil keputusannya mengatakan bahwa yang Namanya perjudian adalah haram dan begitu juga halnya dengan sarana atau perbuatan sama dengan perbuatan tersebut. Dalil yang mereka gunakan adalah firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 90 … .

Footnote no. 18: Fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (MPUA) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Judi Online.

Kemudian diikuti dengan dasar hukum positif di Indonesia, sehingga dalam hal ini mereka mengharamkan judi online karena judi online adalah permainan yang memasang taruhan uang atau bentuk lain, melalui media internet dan media sosial lainnya. Sehingga dalam hal ini, Fatwa MPU Aceh dengan sendirinya telah mengharamkan segala bentuk taruhan yang berimplikasikan perjudian, jadi mengenai unsur berhadap-hadapan bukanlah sesuatu yang sangat penting dalam pandangan mereka, melainkan unsur taruhanlah yang lebih pokok dan lebih utama. (Dikutip dari Skripsi Azwar Effendi, Mahasiswa Tahun 2018 UIN Ar-Raniry Darussalam - Banda Aceh berjudul Definisi Judi Menurut Fatwa MUI dan Ibrahim Hosen [Analisis Pendekatan Bayani], hlm. 52-53)

 

FATWA DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM TENTANG SDSB

Keputusan Sidang Dewan Hisbah I di Bandung. Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah: Mendengar (1) Prasaran tentang masalah SDSB dalam pandangan hukum Islam dari Al-Ustadz H.A. Syuhada. (2) Pendapat dan masukan argumentasi dari anggota dan peserta sidang Dewan Hisbah. Mengingat: Masalah SDSB sudah lama menjadi kenyataan dan bermasyarakat di Indonesia dengan segala dampaknya baik yang konstruktif terutama yang destruktif, dan mendesak untuk dibahas secara hukumnya menurut Islam. Menimbang: (1) Bahwa status hukum SDSB harus segera ditetapkan menurut hukum Islam. (2) Hasil pembahasan seluruh anggota dan peserta sidang Dewan Hisbah yang menyatakan bahwa SDSB adalah identik dengan maisir yang dilarang dalam Islam. Memutuskan: SDSB adalah Maisir (judi). Demikian keputusan sidang Dewan Hisbah VI tentang SDSB dengan argumentasi-argumentasi terlampir. Bandung, 20 Ramadlan 1410 H/ 15 April 1990 M, Ketua (KH.E. Sar’an, NIAT. 03897), Sekretaris (DRS. Shiddiq Amien, NPA. 06490). (Dewan Hisbah, Kumpulan Keputusan Sidang Dewan Hisbah Persatuan Islam tentang Muamalah, Bandung: 2013. hlm. 183-184)

 

FATWA NAHDLATUL ULAMA TENTANG KEHARAMAN MENGIKUTI DAN MENYELENGGARAKAN KUIS LAYANAN PESAN SINGKAT (SMS) DAN TELFON

Kuis yang sedang marak ini mengandung unsur maisir atau gambling alias taruhan yang dilarang secara tegas dalam kitab suci Al-Qur’an.

Penegasan itu disampaikan dalam Bahtsul Masail Diniyah Waqi’iyyah (pembahasan masalah-masalah aktual keagamaan) di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (15/8/06) lalu. Bahtsul Masail dilakukan oleh para kiai dari jajaran syuriah PBNU, dan utusan dari Lajnah Bahtsul Masail NU (LBM) dari beberapa daerah.

Ditegaskan bahwa hadiah yang diterima oleh satu dari ribuan peserta kuis yang membayar harga pulsa melebihi tarif biasa itu tidak bisa disebut sebagai hadiah dalam pengertian hukum Islam. Hadiah dalam kuis itu lebih tepat disebut sebagai judi yang secara tegas dan jelas haram hukumnya. (din/nam, https://www.nu.or.id/post/read/5231/hati-hati-dengan-perjudian-elektronik, diakses pada Selasa, 27/10/20 Pukul 22.20 WIB)

 

FATWA MAJLIS TARJIH MUHAMMADIYAH TENTANG LOTTO, NALO, DAN SESAMANYA

Mu’tamar Majlis Tarjih Muhammadiyah setelah mempelajari, membahas dan mendalami persoalan Lotto dan Nalo dari segala seginya, mengambil keputusan:

  1. Lotto dan Nalo pada hakekatnya dan sifatnya sama dengan taruhan dan perjudian dengan unsur-unsur:

a.      Pihak yang menerima hadiah sebagai pemenang.

b.      Pihak yang tidak mendapat hadiah sebagai yang kalah.

  1. Oleh karena Lotto dan Nalo adalah salah satu jenis dari taruhan dan perjudian, maka berlaku nash sharih dalam Al-Qur’an surat Baqarah ayat 219-220 dan surat Al-Maidah ayat 90-91.
  2. Mu’tamar mengakui bahwa bagian hasil Lotto dan Nalo yang diambil oleh pihak penyelenggara mengandung manfaat bagi masyarakat sepanjang bagian hasil itu betul-betul dipergunakan bagi pembangunan.
  3. Bahwa madlarat dan akibat jelek yang ditimbulkan oleh tersebar luasnya taruhan dalam perjudian dalam masyarakat, jauh lebih besar daripada manfaat yang diperoleh dari penggunaan hasilnya.

Memutuskan, bahwa Lotto dan Nalo adalah termasuk perjudian. Oleh karena itu hukumnya HARAM.

PENJELASAN DARI MAJLIS TARJIH. Lotto itu singkatan dari Lotere totalizator dan Nalo singkatan dari Nasional Lotre.

Dengan demikian maka lotere biasa termasuk didalamnya walaupun kita ketahui Bersama, bahwa cara dan tekniknya kadang-kadang terdapat perbedaan-perbedaan untuk lebih menarik dan sebagainya.

Dalam putusan Lotto dan Nalo termasuk MAISIR, perjudian karena persamaannya, sama-sama mengandung madlarat dan manfaat, rugi untung, kalah menang. Sebab itu HARAM-lah hukumnya, disebabkan madlarat (jauh) lebih besar dari manfa’atnya, sebagaimana tersebut dalam ayat suci Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 219, dan surat Al-Maidah ayat 90 dan 91.

Oleh karenanya kita wajib menghindarinya dan mengingatkan jangan sampai Lotto dan Nalo diadakan, dijual, dibeli dan sebagainya, malah jika berkuasa: melarang.

Tetapi jika tak/ kurang kemampuan bagi kita untuk membendungnya dan tetap pula Lotto dan Nalo yang haram itu diadakan oleh selain kita, maka tetap pula kita harus menghindarinya dan berikhtiar untuk mengikis/ mengurangi madlaratnya, jangan sampai lebih banyak menimpa kepada khalayak ramai, dengan:

  1. Terus-menerus memperingatkan jangan sampai orang mengadakan, menjual dan membelinya, serta memberitahukannya melalui iklan dan lain-lainnya.
  2. Terus-menerus memperingatkan agar segi manfaatnya yang sedikit itu tidak diselewengkan.
  3. Terus-menerus berikrar terutama kepada yang berwajib supaya mengambil perhatian penuh agar hal tersebut mulai sedikit berkurang/ hilang/ hapus. (www.muhammadiyah.co.id, Keputusan Tarjih Sidoarjo, hlm. 168-170. Diunduh pada Rabu, 28/10/20 Pukul 9.12 WIB)

 

DALIL-DALIL KEHARAMAN JUDI

يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِما إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُما أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِما وَيَسْئَلُونَكَ ما ذا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآياتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ. فِي الدُّنْيا وَالْآخِرَةِ ... .

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, tentang dunia dan akhirat … . (QS. Al-Baqarah [2]: 219-220)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Maidah: 90-91)

إِنَّمَا دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ.

“Hanyalah darah kamu dan harta kamu haram hukumnya … .” (HR. Muslim)

... كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.

“… Setiap muslim atas muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim, pada Bulughul Maram, no. 1524)

قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ: اَلْمَيْسِرُ هُوَ القِمَارُ.

Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas berkata: “Maisir adalah qimar.” (Tafsir Ibnu Katsir, II: 91)

قَالَ السَّاعَتِيْ: اَلمَيْسِرُ يَعْنِيْ القِمَارُ.

As-Sa’ati berkata: “Al-Maisir yakni al-qimar.” (Al-Fath Ar-Rabbani, XVIII: 84)

Ibnu Hajar al-Makki rahimahullah berkata,

الْمَيْسِرُ: الْقِمَارُ بِأَيِّ نَوْعٍ كَانَ.

“Al-Maisir (judi) adalah taruhan (qimar) dengan jenis apa saja.” [Az-Zawâjir ‘an Iqtirâfil Kabâ‘ir, 2/200]

Al-Mahalli rahimahullah berkata:

صُورَةُ الْقِمَارِ الْمُحَرَّمِ التَّرَدُّدُ بَيْنَ أَنْ يَغْنَمَ وَأَنْ يَغْرَمَ.

“Bentuk taruhan yang diharamkan adalah adanya kemungkinan mendapatkan keberuntungan atau kerugian.” [Al-Minhaj bi Hâsyiyah al-Qalyubi, 4/226]

Dosa judi itu tidak hanya di dapatkan oleh orang yang melakukannya, bahkan sekedar ucapan mengajak berjudi sudah terkena dosa dan diperintahkan untuk membayar kaffarah (penebus dosa) dengan bershadaqah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: وَاللَّاتِ وَالعُزَّى، فَلْيَقُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa bersumpah dengan mengatakan ‘Demi Latta dan ‘Uzza, hendaklah dia berkata, ‘Lâ ilâha illa Allâh’. Dan barangsiapa berkata kepada kawannya, ‘Mari aku ajak kamu berjudi’, hendaklah dia bershadaqah!”. [HR. Al-Bukhâri, no. 4860; Muslim, no. 1647]

كُلُّ لِعْبٍ فِيْهِ قِمَارٌ فَهُوَ حَرَامٌ وَالقِمَارُ كُلُّ مَا لَا يَخْلُوْا اللَّاعِبُ فِيْهِ رِبْحٌ وَخَسَارَةٌ وَهُوَ المَيْسِرُ الَّذِيْ قَرَنَهُ القُرْآنُ بِالخَمْرِ وَالأَنْصَابِ وَالأَزْلَامِ.

“Setiap permainan padanya qimar, maka itu haram. Setiap yang permainan yang padanya mengandung keuntungan atau kerugian. Maka illah maisir yang digandengkan oleh Alquran dengan khamr dan mengundi nasib dan anak panah untuk mengundi nasib.” (Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam)

اَلقِمَارُ كُلُّ لِعْبٍ يُشْتَرَطُ فِيْهِ أَنْ يَأْخُذَ الغَالِبُ مِنَ المَغْلُوْبِ شَيْئًا سَوَاءٌ كَانَ بِالوَرَقِ أَوْ غَيْرِهِ.

Qimar adalah setiap permainan yang disyaratkan padanya, pemenang mengambil sesuatu dari yang kalah, sama saja apakah dengan uang atau lainnya.” (Al-Munjid), Wallaahu A'lam, Abu Akyas Hanafi Anshory.

 

Dikutip dari Buletin MUI DESA MARGAMUKTI KECAMATAN PANGALENGAN KAB. BANDUNG edisi ke-1 [NOPEMBER 2020].

Pornografi Perusak Kehidupan

  Pornografi The Drug Of The New Milenium Pornograpi adalah narkoba yang mengubah otak penggunanya secara radikal. ini adalah zat yang sanga...